Aku menemukan gadis itu menyiratkan senyuman penuh luka. Ia membuang wajahnya yang segar itu keluar jendela. Memperhatikan setiap pepohonan yang mulai berderet jarang-jarang di sepanjang jalan dan mobil-mobil yang berlainan arah. Wajahnya seperti perdu ditumpahi hujan yang berkepanjangan dan dimekarkan oleh bunga-bunga berwarna kuning, sekuning baju yang ia kenakan. Begitu dingin dan beku. Namun wajah segar putih yang memantul kekuningan itu adalah wajah yang serupa dengan suasana itu. Siang yang mendung dengan langit keabuan membentang tanpa jeda. Sesekali aku melihat gadis itu menelan ludah saat tatapan kami bertemu. Aku tahu, gadis kuning itu menyukai bunga-bunga yang dipegangnya. Aku menghampirinya.
@Pelataran Solaria, balikpapan
nyanyian jiwa pada senandung roh keheningan yang meluncur dalam makna memukau energi hati tanpa batas di setiap guratan uniknya
Senin, 21 November 2011
lintasan sepenggal cerita sore itu
Cuaca bumi etam siang ini sungguh galau. Hujan tanpa kenal hari. Aku menyukai hujan, hujan bisa mengaburkan suaraku dan embun menguap ke langit bersama bulir-bulirnya, aku merindukannya. Rindu itu jauh, kekasih. Seperti ujung cakrawala. Bisu dan biru, basah namun dahaga. Seperti langit yang menuang hujan di bumi etam ini, rinduku hanya membayang.
Dingin menyeruak hingga pori-pori kulitku. Kularikan motor kesayanganku di salah satu mall perbelanjaan di kota minyak.
Secangkir espresso dan setangkup donat menemani lelahku di warung kopi yang terkenal di kota ini. Di sudut ruangan menyendiri, mencoba memahami rinai angin laut Balikpapan dan menulis aksara-aksara hati untuk sang kekasih. Terlintas dirinya di pulau seberang. Semesta...aku sangat rindu perjumpaan. Jarak membuih selaksa bulir-bulir riak hujan menyeringai hari. Dingin kekasih, tanpa hadirmu. Aku rindu.
Kepulan espresso merayap melangit bergumpal hangat, melukiskan lintasan percakapan kemarin malam.
"Kapan kau datang? Kenapa tidak memberi kabar? Aku bisa mempersiapkan semuanya". Katamu ketika kita bertemu di koridor ruang perkuliahan.
"Hai, kemarin sore aku datang, kabar selalu baik. Terima kasih, tapi aku sudah di jemput sama temanku, gimana kabarmu selama ini?" kataku, oh si Mata Elang...akhirnya bertemu juga aku denganmu setelah sekian waktu ku tinggal menunaikan tugas. Kau tak berubah, selalu mata elangmu itu mencengkeram mata dan tubuhku, namun bukan luka kali ini yangg kulihat, tapi sebuah kerinduan. Hei...ada kerinduan di mata elangmu.
"Aku senang kau kembali ke kota ini, hhmmm....semoga kita bisa kembali seperti dulu." Lirihmu di antara lengangnya koridor ini. "Maaf jika membuatmu seperti itu." lanjutmu.
"Maksudmu?"....aku paham maksudnya, namun pura-pura adalah hal yang baik.
"Sudahlah lupakan saja, aku tahu kamu di sana sudah menemukan yang lebih baik." uraimu. Aku tahu itu sebuah kekecewaan, sesaat?aku tidak tahu. Aku ingin mengatakannya namun aku telah melihat bahwa dia juga sudah mengerti aku, mengapa aku hanya diam.
Oh... mata elang, tidak segampang itu untuk berkata "kembali seperti dulu". kekecewaan, luka yang kau tanam mencacah hati dan raga. Masih mmebekas. Butuh waktu untuk bisa mengembalikan kesakitan ini. Kini kau kembali menawarkan rasamu. Hanya muak yang menyergap diri ketika bertemu kembali denganmu malam itu.
"Sayangku sudah kembali ke sini, aku sungguh senang...aku rindu semua tentangmu. Aku ingin merajutnya kembali bersamamu." Lelaki satunya lagi ketika pertemuan yang tak terduga di sebuah pementasan teater malam itu. Aku menyebutnya si mata ilalang. Mata ilalang yang pesonanya tak pernah padam di mata semua perempuan hingga kini, namun padam di mataku. "Aku rindu baumu, rindu setiap inchi tubuhmu, rindu kebersamaan kita, say..kembalilah bersamaku." lanjutmu lagi.
"Aku juga rindu, kabar semua tentangku baik-baik saja." jawabku. Ya aku merindukanmu. Merindukan perjumpaan denganmu, perjumpaan yang membuktikan bahwa aku kuat, sanggup untuk berdiri sendiri tanpa seorang lelaki yang telah menorehkan belati setajam sisa embun yang siap melangit lepas. Muak melihatmu mengiba diri malam itu.
aku kangen. kangen berdua bersamamu. kangen hari-hari kita. kau sudah tidak di sini?kapan kau kembali lagi ke sini?aku menunggumu.
Hmm...lelaki yang lain. hanya lewat sms. anak muda, kenapa kau kembali lagi menghubungiku. lelah, berusaha melupakanmu. Anak muda yang penuh bijak, berambisi, percaya diri. Betapa percaya dirinya memperjuangkan hubungan kami di depan keluarganya. Namun akhirnya takhluk juga ketika disodorkan seorang perempuan oleh orang tuanya. Semua harus berakhir. Dan semua itu membuat aku muak.
Muak terhadap lelaki yang telah meracau hidupku. Meninggalkan mereka adalah hal yang harus aku lakukan. Semua luka hanya menyisakan dendam kesumat terhadap semua lelaki. Membuktikan tegar, pura-pura tegar. Membuktikan sanggup, memang aku sanggup melupakan mereka.
Kini tersenyum sinis, melihat, mendengar, ibaan mereka untuk kembali. ah...kembali...sebuah kata yang tak termaafkan jika menyangkut luka. Sebuah trauma masa silam yang belum genap hilang, luka yang mengecap belum sembuh, luka lagi yang menambal hidup.
Ahh....kupalingkan wajahku di bulir hujan, rinai angin menyapa lembut, senyuman tersungging di wajah sendu, aku rindu kamu, kekasih. Betapa perjalanan hidup ini membuatku lelah, aku ingin pulang, rebah ke kasihmu. Aku mencintai-Nya lewat pelukan hatimu. Bimbinglah aku, kekasih. Agar ketika aku pulang ke nirwana-Nya, Dia menerimaku, perempuan terluka dan tak sempurna.
@20 November 2011, J.Co cafe Balcony Balikpapan, sore menjingga...
Dingin menyeruak hingga pori-pori kulitku. Kularikan motor kesayanganku di salah satu mall perbelanjaan di kota minyak.
Secangkir espresso dan setangkup donat menemani lelahku di warung kopi yang terkenal di kota ini. Di sudut ruangan menyendiri, mencoba memahami rinai angin laut Balikpapan dan menulis aksara-aksara hati untuk sang kekasih. Terlintas dirinya di pulau seberang. Semesta...aku sangat rindu perjumpaan. Jarak membuih selaksa bulir-bulir riak hujan menyeringai hari. Dingin kekasih, tanpa hadirmu. Aku rindu.
Kepulan espresso merayap melangit bergumpal hangat, melukiskan lintasan percakapan kemarin malam.
"Kapan kau datang? Kenapa tidak memberi kabar? Aku bisa mempersiapkan semuanya". Katamu ketika kita bertemu di koridor ruang perkuliahan.
"Hai, kemarin sore aku datang, kabar selalu baik. Terima kasih, tapi aku sudah di jemput sama temanku, gimana kabarmu selama ini?" kataku, oh si Mata Elang...akhirnya bertemu juga aku denganmu setelah sekian waktu ku tinggal menunaikan tugas. Kau tak berubah, selalu mata elangmu itu mencengkeram mata dan tubuhku, namun bukan luka kali ini yangg kulihat, tapi sebuah kerinduan. Hei...ada kerinduan di mata elangmu.
"Aku senang kau kembali ke kota ini, hhmmm....semoga kita bisa kembali seperti dulu." Lirihmu di antara lengangnya koridor ini. "Maaf jika membuatmu seperti itu." lanjutmu.
"Maksudmu?"....aku paham maksudnya, namun pura-pura adalah hal yang baik.
"Sudahlah lupakan saja, aku tahu kamu di sana sudah menemukan yang lebih baik." uraimu. Aku tahu itu sebuah kekecewaan, sesaat?aku tidak tahu. Aku ingin mengatakannya namun aku telah melihat bahwa dia juga sudah mengerti aku, mengapa aku hanya diam.
Oh... mata elang, tidak segampang itu untuk berkata "kembali seperti dulu". kekecewaan, luka yang kau tanam mencacah hati dan raga. Masih mmebekas. Butuh waktu untuk bisa mengembalikan kesakitan ini. Kini kau kembali menawarkan rasamu. Hanya muak yang menyergap diri ketika bertemu kembali denganmu malam itu.
"Sayangku sudah kembali ke sini, aku sungguh senang...aku rindu semua tentangmu. Aku ingin merajutnya kembali bersamamu." Lelaki satunya lagi ketika pertemuan yang tak terduga di sebuah pementasan teater malam itu. Aku menyebutnya si mata ilalang. Mata ilalang yang pesonanya tak pernah padam di mata semua perempuan hingga kini, namun padam di mataku. "Aku rindu baumu, rindu setiap inchi tubuhmu, rindu kebersamaan kita, say..kembalilah bersamaku." lanjutmu lagi.
"Aku juga rindu, kabar semua tentangku baik-baik saja." jawabku. Ya aku merindukanmu. Merindukan perjumpaan denganmu, perjumpaan yang membuktikan bahwa aku kuat, sanggup untuk berdiri sendiri tanpa seorang lelaki yang telah menorehkan belati setajam sisa embun yang siap melangit lepas. Muak melihatmu mengiba diri malam itu.
aku kangen. kangen berdua bersamamu. kangen hari-hari kita. kau sudah tidak di sini?kapan kau kembali lagi ke sini?aku menunggumu.
Hmm...lelaki yang lain. hanya lewat sms. anak muda, kenapa kau kembali lagi menghubungiku. lelah, berusaha melupakanmu. Anak muda yang penuh bijak, berambisi, percaya diri. Betapa percaya dirinya memperjuangkan hubungan kami di depan keluarganya. Namun akhirnya takhluk juga ketika disodorkan seorang perempuan oleh orang tuanya. Semua harus berakhir. Dan semua itu membuat aku muak.
Muak terhadap lelaki yang telah meracau hidupku. Meninggalkan mereka adalah hal yang harus aku lakukan. Semua luka hanya menyisakan dendam kesumat terhadap semua lelaki. Membuktikan tegar, pura-pura tegar. Membuktikan sanggup, memang aku sanggup melupakan mereka.
Kini tersenyum sinis, melihat, mendengar, ibaan mereka untuk kembali. ah...kembali...sebuah kata yang tak termaafkan jika menyangkut luka. Sebuah trauma masa silam yang belum genap hilang, luka yang mengecap belum sembuh, luka lagi yang menambal hidup.
Ahh....kupalingkan wajahku di bulir hujan, rinai angin menyapa lembut, senyuman tersungging di wajah sendu, aku rindu kamu, kekasih. Betapa perjalanan hidup ini membuatku lelah, aku ingin pulang, rebah ke kasihmu. Aku mencintai-Nya lewat pelukan hatimu. Bimbinglah aku, kekasih. Agar ketika aku pulang ke nirwana-Nya, Dia menerimaku, perempuan terluka dan tak sempurna.
@20 November 2011, J.Co cafe Balcony Balikpapan, sore menjingga...
Jumat, 26 Agustus 2011
kau
kau misterius seperti malam tak berbulan. hadirmu memabukkan seperti aroma rempah-rempah. namun sebelum aku berhasil membongkar misteri tentangmu, sosokmu menguap begitu saja. seperti embun menjelang siang.
kukira nyeri di hatiku juga bisa cepat pergi, dibantu oleh waktu.
aku salah...
perasaanku tak sama lagi setelah kepergianmu. justru kau membuatku mencandu. kau yang kurindu....kau...
Wanginya semerbak kesturi subuh yang menenangkan sukma ini meneduhkan raga ini dari serbuk2 cinta yang menghampiri.......dengan rintik2 cintamu saja sdh membuatku teduh apalagi dengan bonhkahan pulau cintamu yang seluas samudra,,,,,,setitiknya pun tak pernah ku jumpai di musim semi.......kerinduanku tak berujung bak lautan menjulang di samudra yang beserta deruan ombak yg melaju, menari lunglai bak sang penari......kau lagi kau lagi........
aku pikir dengan berhenti memikirkanmu, aku bebas dari bayanganmu...justru aku semakin merindukanmu...hingga kau tahu...rindu ini tak bertepi...sedangkan kau...bergumul dengan bayanganku...seakan-akan aku bersetubuh dengan waktu jika aku merindumu....
kukira nyeri di hatiku juga bisa cepat pergi, dibantu oleh waktu.
aku salah...
perasaanku tak sama lagi setelah kepergianmu. justru kau membuatku mencandu. kau yang kurindu....kau...
Wanginya semerbak kesturi subuh yang menenangkan sukma ini meneduhkan raga ini dari serbuk2 cinta yang menghampiri.......dengan rintik2 cintamu saja sdh membuatku teduh apalagi dengan bonhkahan pulau cintamu yang seluas samudra,,,,,,setitiknya pun tak pernah ku jumpai di musim semi.......kerinduanku tak berujung bak lautan menjulang di samudra yang beserta deruan ombak yg melaju, menari lunglai bak sang penari......kau lagi kau lagi........
aku pikir dengan berhenti memikirkanmu, aku bebas dari bayanganmu...justru aku semakin merindukanmu...hingga kau tahu...rindu ini tak bertepi...sedangkan kau...bergumul dengan bayanganku...seakan-akan aku bersetubuh dengan waktu jika aku merindumu....
daun itu...
Daun itu jatuh dng gemulai seperti tak ingin benar-benar terlepas dari ranting. Seperti ingin mengucapkan salam perpisahan atau sekedar menitipkan pelukan ringan. Perlahan gerimis pun merinai mendendangkan lagu pilu. Bumi dipijaknya dlm keadaan basah kuyup dan kesepian. Perpisahan dng ranting rupanya menyisakan kesendirian tak berkesudahan. Barangkali memang sudah waktunya berpisah. Dan dia mencintai waktunya
bebas
cerita-cerita kecil, episode yang rumit, alur jalan memutar, lorong-lorong gelap
yang sulit untuk sebuah perjalanan...adalah warna yang sekian lama ada..
pada waktu yang sebentar ini...rasanya, memang tak ada yang mesti disesalkan
semua cerita adalah anugerah dan pertanda..yang tak perlu dilupakan, tapi dikenangkan..
sekarang...bebas lepas...engkau...aku...
menarilah diatas awan...kekasih...
yang sulit untuk sebuah perjalanan...adalah warna yang sekian lama ada..
pada waktu yang sebentar ini...rasanya, memang tak ada yang mesti disesalkan
semua cerita adalah anugerah dan pertanda..yang tak perlu dilupakan, tapi dikenangkan..
sekarang...bebas lepas...engkau...aku...
menarilah diatas awan...kekasih...
kebimbangannya
dia bimbang. meski raga bersama kekasihnya, namun hati terpatri pada kekasih hatinya. dia hanya bisa menangis dan mengulum mantra-mantra Tuhannya. hatinya tak bisa berbohong ternyata masih mencintai kekasih hatinya. hubungan yang tidak bisa dipertahankan. mencintai yang tidak bisa dimiliki. pasti sakit baginya. meski dia bersama kekasihnya yang lain. tak adil memang. dia berjanji untuk berusaha belajar mencintai kekasihnya. aku hanya bisa berkata bahwa lihatlah pengalaman masa laluku yang buruk.
tiga musim
tiga musim alur perjalanan bersama lima generasi yang berbeda membuatku pada satu titik batas kejenuhan dan rasa menghilang dengan sempurna tak menyisakan satupun meskipun itu asa...
menyudut dengan aksara-aksara perkamen dan mengulum mantra-mantra-Mu...aku mencintai-Mu dengan nafasku,kekasih...
@shubuh di ketintang lama
menyudut dengan aksara-aksara perkamen dan mengulum mantra-mantra-Mu...aku mencintai-Mu dengan nafasku,kekasih...
@shubuh di ketintang lama
Langganan:
Postingan (Atom)