pagi ini...menikmati good day chococinno dan sepotong roti....hmm....hangat...
membaca sajak2 darimu....hhmm...nyaman...
ada pesan yang tersirat yang harus aku maknai....
aku merindukanmu, kekasih...
tidak hanya sekedar satu titik....
@ ketintang surabaya
nyanyian jiwa pada senandung roh keheningan yang meluncur dalam makna memukau energi hati tanpa batas di setiap guratan uniknya
Minggu, 15 Mei 2011
Senin, 02 Mei 2011
buat kawanku
seperti seorang anak kecil
aku bergelayut di bahumu manja
sesekali bersitatap mungkin mesra
mungkin penuh arti
mungkin penuh makna
atau mungkin tak berarti dan tak bermakna sama sekali
berhari-hari sudah kita bikin cerita
kita menikmati
tapi di sisa malam satu pertanyaan hadir
“akankah cerita kita berakhir?”
aku bergelayut di bahumu manja
sesekali bersitatap mungkin mesra
mungkin penuh arti
mungkin penuh makna
atau mungkin tak berarti dan tak bermakna sama sekali
berhari-hari sudah kita bikin cerita
kita menikmati
tapi di sisa malam satu pertanyaan hadir
“akankah cerita kita berakhir?”
senja itu
Starbucks coffee senja, tidak seperti biasa yang ramai. duduk di atas balkon menikmati angin dan senja yang lembayung. Menyeruput latte hangat dan secuil tiramisu dan berserakan kertas-kertas kerja di meja kayu ini.
"Jangan terlalu terfosir dengan kerjaan, sayang." katamu sambil menikmati espresso panas
"pekerjaan ini sudah berteriak-teriak untuk minta cepat diselesaikan sayang, sebelum aku tugas ke luar kota dalam kurun waktu lama." Mataku tak beralih dari laptop kesayanganku itu.
"Sayang, mari sejenak kita lupakan tentang kerjaan, tentang ketidakjelasan, tentang semuanya. Sejenak kita nikmati secangkir kopi dan sepotong roti tiramisu, sejenak kita rasakan waktu yang berhenti hanya di saat kita bahagia. Besok pesawatku take off pagi, sayang. Aku juga ada tugas di luar kota beberapa hari."
"Hahaha, sayang...kita selalu bahagia. Baiklah akan ku bereskan." Sambil merapikan kertas-kertas kerja. "Aku pasti akan selalu merindukanmu, sayang.hati-hati selama di sana ya. Jaga kesahatanmu, selamat bertugas aku mendoakanmu." Kataku.
"Thanks. Aku yang selalu merindukanmu, sayang.” Katamu
“Maafkan aku jika mulai mencintaimu, rasa ini ternyata ada." Kataku lirih.
"Jangan mencintaiku, sayang. Aku takut kita tidak bisa saling memiliki nanti."
Huuffft...hampir saja cangkir latte ini lepas dari peganganku.
"Oohh....kau ingin memiliki aku?" Aahh...pertanyaan bodoh yang ku lontarkan padanya.
"Aku ingin sekali. Tapi takut menyiksamu dan orang lain. Dan aku takut kita malah kehilangan rasa nantinya. Please...sayang, nanti kamu sakit karena cinta itu sendiri." jelasmu.
"Karena kau tidak mencintaiku, kan?" Bingung mencerna kata-katamu. "Aku belum pernah merasakan bagaimana dicintai dengan tulus. Kamu telah masuk dalam sebagian hidupku, ijinkan aku mencintaimu, sayang. Maafkan kalau aku salah. Aku sayang kamu" Kutatap matamu yang berlanskap biru langit lembayung senja ini.
"Sayang, kamu tidak akan paham. Aku juga mencintai kamu, tapi tidak bisa memiliki kamu, aku tahu itu, percayalah. Jangan perdebatkan, sayang..." Katamu seraya menggenggam tanganku.
Desau angin malam mulai menyapaku, langit masih lembayung. dingin menatap wajahmu, harapan dan asa yang kulihat dipancaran matamu. Aku tahu kau mencintaiku, aku tahu kau sayang aku, aku tahu kau selalu luangkan waktu sibukmu untukku, aku tahu kau selalu ada untukku, aku tahu kau ingin memilikiku, aku tahu itu. Dan aku juga menginginkan semuanya. Aku sadar logika memang sangat merajai pikiran kita, kita tidak mungkin bersama.
"Ijinkanlah aku mencintaimu."
"Kejarlah dulu cita-citamu, selesaikan studimu, jangan kau perdebatkan lagi, sebelum itu kamu capai, sayang." Bijak katamu itu yang membuat aku selalu ingin bersamamu.
"Meskipun aku studi di tempat yang jauh bermil-mil? 1 jam naik pesawat? tidak bisa lewat jalan darat? dipisahkan oleh laut dan pulau-pulau? aku ingin bersamamu, sayang." Tukasku
"Aku yang menyusulmu, sayang."
"Baiklah, terima kasih. Aku akan wujudkan dulu cita-citaku, dukung dan doakanlah aku selalu, sayang. Doakan juga pada suatu ketika kita bisa saling memiliki." Isakku.
"Iya sayang, pada suatu ketika." Genggaman tanganmu itulah yang membuat aku nyaman dalam sketsa hidupku saat ini.
Starbucks Coffee, BPP, 28/4/2011
"Jangan terlalu terfosir dengan kerjaan, sayang." katamu sambil menikmati espresso panas
"pekerjaan ini sudah berteriak-teriak untuk minta cepat diselesaikan sayang, sebelum aku tugas ke luar kota dalam kurun waktu lama." Mataku tak beralih dari laptop kesayanganku itu.
"Sayang, mari sejenak kita lupakan tentang kerjaan, tentang ketidakjelasan, tentang semuanya. Sejenak kita nikmati secangkir kopi dan sepotong roti tiramisu, sejenak kita rasakan waktu yang berhenti hanya di saat kita bahagia. Besok pesawatku take off pagi, sayang. Aku juga ada tugas di luar kota beberapa hari."
"Hahaha, sayang...kita selalu bahagia. Baiklah akan ku bereskan." Sambil merapikan kertas-kertas kerja. "Aku pasti akan selalu merindukanmu, sayang.hati-hati selama di sana ya. Jaga kesahatanmu, selamat bertugas aku mendoakanmu." Kataku.
"Thanks. Aku yang selalu merindukanmu, sayang.” Katamu
“Maafkan aku jika mulai mencintaimu, rasa ini ternyata ada." Kataku lirih.
"Jangan mencintaiku, sayang. Aku takut kita tidak bisa saling memiliki nanti."
Huuffft...hampir saja cangkir latte ini lepas dari peganganku.
"Oohh....kau ingin memiliki aku?" Aahh...pertanyaan bodoh yang ku lontarkan padanya.
"Aku ingin sekali. Tapi takut menyiksamu dan orang lain. Dan aku takut kita malah kehilangan rasa nantinya. Please...sayang, nanti kamu sakit karena cinta itu sendiri." jelasmu.
"Karena kau tidak mencintaiku, kan?" Bingung mencerna kata-katamu. "Aku belum pernah merasakan bagaimana dicintai dengan tulus. Kamu telah masuk dalam sebagian hidupku, ijinkan aku mencintaimu, sayang. Maafkan kalau aku salah. Aku sayang kamu" Kutatap matamu yang berlanskap biru langit lembayung senja ini.
"Sayang, kamu tidak akan paham. Aku juga mencintai kamu, tapi tidak bisa memiliki kamu, aku tahu itu, percayalah. Jangan perdebatkan, sayang..." Katamu seraya menggenggam tanganku.
Desau angin malam mulai menyapaku, langit masih lembayung. dingin menatap wajahmu, harapan dan asa yang kulihat dipancaran matamu. Aku tahu kau mencintaiku, aku tahu kau sayang aku, aku tahu kau selalu luangkan waktu sibukmu untukku, aku tahu kau selalu ada untukku, aku tahu kau ingin memilikiku, aku tahu itu. Dan aku juga menginginkan semuanya. Aku sadar logika memang sangat merajai pikiran kita, kita tidak mungkin bersama.
"Ijinkanlah aku mencintaimu."
"Kejarlah dulu cita-citamu, selesaikan studimu, jangan kau perdebatkan lagi, sebelum itu kamu capai, sayang." Bijak katamu itu yang membuat aku selalu ingin bersamamu.
"Meskipun aku studi di tempat yang jauh bermil-mil? 1 jam naik pesawat? tidak bisa lewat jalan darat? dipisahkan oleh laut dan pulau-pulau? aku ingin bersamamu, sayang." Tukasku
"Aku yang menyusulmu, sayang."
"Baiklah, terima kasih. Aku akan wujudkan dulu cita-citaku, dukung dan doakanlah aku selalu, sayang. Doakan juga pada suatu ketika kita bisa saling memiliki." Isakku.
"Iya sayang, pada suatu ketika." Genggaman tanganmu itulah yang membuat aku nyaman dalam sketsa hidupku saat ini.
Starbucks Coffee, BPP, 28/4/2011
Sabtu, 30 April 2011
Ketika Hujan Pagi
dia menyatakan dan aku percaya. tapi ketika aku berusaha menemukan kesungguhan matanya, dia malah memasang kacamata hitam untuk menyembunyikan dusta yang dia simpan di sana.
jangan hapus jejak sayangmu. janganlah kau berduka di senjamu. pulanglah kau padaku, sayang. kita warnai senja, malam, dan pagi bersama dalam rasa.
di bawah rinai hujan pagi ini aku merindukanmu.
jangan hapus jejak sayangmu. janganlah kau berduka di senjamu. pulanglah kau padaku, sayang. kita warnai senja, malam, dan pagi bersama dalam rasa.
di bawah rinai hujan pagi ini aku merindukanmu.
Minggu, 24 April 2011
kenangan...
aku pasti merindukan kota ini.kota dimulainya sekuel hidupku yang berliku.mencintai,dicintai,men angis,luka,sakit,tertawa,hampa ,berdua,sendiri, brsama2.sahabat,teman,kekasih, kalian telah melengkapi satu sekuel hidupku.sebentar lagi kota ini akan kutinggalkan untuk meretas cita2.kenangan selalu menggelayuti perjalananku.dari kota satu ke kota lain.penuh kenangan dan punya cerita.biarlah kunikmati dalam sekuel hidupku
Ketika Kau dan Aku...
Bagi kita, senja selalu sempurna. Bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas?
Lalu, saat kau berkata, "Aku mencintaimu," aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu absurd?
"Aku mencintaimu," katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna?
"Aku selalu ada untukmu, sayang". Aku selalu ingat kata-katamu itu. Tapi lihatlah...untuk meretas kebahagianpun kita mencuri waktu. Mengaburkan makna, berpeluh dalam hasrat dan rasa. Melelahkan hati dan jiwa. Aku tahu kau ingin memberikan aku kebahagiaan, namun ada dia dihidupmu. kau lelah...
Ketika rasa ini telah tertambat padamu, dia mengabadi dalam jiwa. Dan biarkanlah sayapku yang akan meninggalkanmu.
Retaslah bahagia bersamanya, sayang...
Lalu, saat kau berkata, "Aku mencintaimu," aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu absurd?
"Aku mencintaimu," katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna?
"Aku selalu ada untukmu, sayang". Aku selalu ingat kata-katamu itu. Tapi lihatlah...untuk meretas kebahagianpun kita mencuri waktu. Mengaburkan makna, berpeluh dalam hasrat dan rasa. Melelahkan hati dan jiwa. Aku tahu kau ingin memberikan aku kebahagiaan, namun ada dia dihidupmu. kau lelah...
Ketika rasa ini telah tertambat padamu, dia mengabadi dalam jiwa. Dan biarkanlah sayapku yang akan meninggalkanmu.
Retaslah bahagia bersamanya, sayang...
Sekuel Pagi
khayalku mengapung di riak kabut pagi
berselimut langit subuh yang mulai menapak ke bumi
desau angin menenteramkan pucuk-pucuk daun
menyerukan damai meski sekejap.
kulukis wajah langit pagi. kupandangi dia yang mulai berubah.
lanskap biru berlalu begitu saja.
kemudian kupetik sehelai awan pagi ini lembayung warnanya
kulihat kepakan sayap elangmu melintas, mata yang selalu menghujam jiwaku, terlihat perih.
aku tengadah "retaslah bahagia bersamanya". tiba-tiba rinai hujan menyambangiku.
sendiri,kusaksikan pagi ini yang masih lembayung.
di sudut langit kutemukan dirimu.kibasan angin setia mencumbui tubuhku.
nanar tatapanku.
asa menggeliat di pelataran rindu. ingin kurengkuh dan satukan hasrat.
roh memanggil dirimu kekasih surgaku. roh ini merindukanmu. pulanglah kau kepadaku.
berselimut langit subuh yang mulai menapak ke bumi
desau angin menenteramkan pucuk-pucuk daun
menyerukan damai meski sekejap.
kulukis wajah langit pagi. kupandangi dia yang mulai berubah.
lanskap biru berlalu begitu saja.
kemudian kupetik sehelai awan pagi ini lembayung warnanya
kulihat kepakan sayap elangmu melintas, mata yang selalu menghujam jiwaku, terlihat perih.
aku tengadah "retaslah bahagia bersamanya". tiba-tiba rinai hujan menyambangiku.
sendiri,kusaksikan pagi ini yang masih lembayung.
di sudut langit kutemukan dirimu.kibasan angin setia mencumbui tubuhku.
nanar tatapanku.
asa menggeliat di pelataran rindu. ingin kurengkuh dan satukan hasrat.
roh memanggil dirimu kekasih surgaku. roh ini merindukanmu. pulanglah kau kepadaku.
Langganan:
Postingan (Atom)